Make your own free website on Tripod.com

Di Keheningan Malam 

 

Di luar sana... jangkrik sang musik malam 
Tengah melantunkan lagunya
Mengusik dan menguak telinga manusia
Yang tengah terbuai dalam mimpi indah
Ronda malam berderap sepatunya di atas aspal
Memperdengarkan kentongan sebanyak 1 kali
Dingin.... memang dingin... sembari menarik jaketnya
Yang sudah berapa minggu tidak dicuci
Rumah demi rumah dilaluinya
Semua sudah gelap dan senyap
Kecuali lampu teras dan garasi
Ketika dia melewati sebuah rumah
Dia merasa aneh, ternyata rumah ini....
Masih terang benderang dan terdengar musik 
Sayup-sayup sampai
Oh itu lagu-lagu koleksi Evergreen tahun 60 an
Lama dia berhenti eeeehh..............
Tak lama kemudian terdengar makian...
sialan lu... ketendang lageee..
Wah orangnya masih idup rupanya busyet.......
Apa dia marah padaku pake memaki 

dan mau nendang segala
Huh amit-amit pikir sang ronda malem
Ternyata sesosok anak muda hampir nendang meja
Saking keselnya dia dihembuskannya asap rokoknya 
Yg berbau apek maklum dia ngerokok cigarillos 

merek AGIO keluaran belanda
Ngapain sih mahluk ini orang lain pada tidur kok
Masih melek. pikir sang ronda malem tadi
Ooooo... itu si ZUSI yg tengah mojok
Yahh.. ternyata anak muda itu 
Adalah korban Chatting Maniac
Yg rela menghabiskan sebagian umurnya
Di depan sebuah mesin elektronik buatan manusia
Manusia yang hidup di keheningan malam
Menemani sang kalong mencari buah segar 

untuk makannya
Sebuah keheningan bagi orang lain
Tapi sebuah keramaian bagi seorang chatter 

di dunia maya.
Kentongan pun berdentang 4 kali

++01010101++

 

 

Ohh.. Reformasi

 

 

Muaaaaakkk.. aku muakkkkk.....
Baginda-baginda politik bercengkrama serta berseteru 

satu sama lain...
semua merasa benar
Semua merasa hebat.... 
semua mau berantas KKN..
tapi apa lacur.. kini mereka lupa apa yg di cengkramakannya.. 
apa yg dipertengkarkannya.. 
tidak lebih dari seutas benang merah 
yg mengikat atribut-atribut kekuasaannya......
Hai saudara-saudaraku yg duduk di mahligai Dewan 

Perwakilan Rakyat, 
kalian selalu berkata demi suara rakyat.. 
eh apakah aku memilih mereka ? 
rasanya tidak.. sebab yg ku coblos adalah gambar-gambar, 
entah kucing buduk atau kucing rakus 
yg di jual oleh tanda gambar itu aku tak tahu...
Kayaknya sih iyaa.. ternyata yg ada kucing buduk, bin 

serakah...
Maling berteriak maling.....
yg merasa cemas akan si pulan tetangga mereka 
yaakh walau tidak melihat 
tetapi menggenggam kunci gembok rahasia Qorun mereka... 
yahhhh daripada aku keduluan di gusur.. 
mending aku menggusur duluan..... oh ini toh kiatnya...
Saudaraku tak kau pedulikan teriakan jelata yg kena PHK, 
yg hasil panen sawahnya dijual dibawah harga resmi, 
yg kembang kempis tiap hari... 
sedangkan engkau duduk saja di bayar mahal dari keringat 

dan darah kami, 
lupakah engkau adalah amanah ?????
Nun diluar adik-adik berteriak menari-nari 
diatas dana bantuan luar negeri, demo katanya... 
ahhhh kalau dulu terkenal pembunuh bayaran.. 
sekarang dikenal demo bayaran... 
apakah mereka mau demo kalau tidak ada rupiah hijau ?????
Apakah begini reformasi tumpah darahku??? 
mana rasa tentram ku akan penghasilan 
yg semakin tak berharga.. karena harga semakin melangit...
ahhh. rasanya kok janggal yaaa..

Palembang, Januari 2001

+05+05+05+05+